Nama “diabetes” yang kita gunakan saat ini berakar dari bahasa Yunani kuno. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Aretaeus dari Kapadokia, seorang dokter terkemuka pada abad ke-2 Masehi. Secara etimologis, “diabetes” berasal dari kata “diabainein” yang berarti “mengalir melalui” atau “sifon”. Aretaeus memberikan nama ini karena ia mengamati bahwa air yang diminum oleh pasien tampak langsung mengalir keluar dari tubuh tanpa bisa ditahan, seperti air yang mengalir melalui pipa.
Pada era Yunani-Romawi, para dokter mencoba menjelaskan penyakit ini melalui teori “Humorisme”, yaitu keseimbangan empat cairan tubuh. Mereka percaya bahwa diabetes adalah kondisi di mana ginjal menjadi terlalu lemah untuk menahan cairan, sehingga tubuh kehilangan nutrisinya secara perlahan. Tokoh medis lain seperti Galen juga mengamati kondisi ini, meskipun ia mengaku hanya melihat beberapa kasus sepanjang kariernya, menunjukkan bahwa penyakit ini dianggap sangat langka pada masa itu.
Observasi klinis dari para pemikir kuno ini sangat krusial. Meskipun metode mereka terbatas pada pengamatan indrawi, kemampuan mereka untuk mengidentifikasi penyakit ini sebagai gangguan sistemik (bukan sekadar penyakit lokal) membuka jalan bagi ilmu kedokteran untuk mencari solusi yang lebih mendalam pada abad-abad berikutnya.

